*
KONSOLIDASI DEMOKRASI BENGKULU (2)

KONSOLIDASI DEMOKRASI BENGKULU (2)

Pendewasaan Politik yang Lamban

Oleh: Adhitya Ramadhan/Nina Susilo

Pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi proses pendewasaan politik masyarakat dalam memilih calon pemimpin yang kompeten. Namun, di Bengkulu, kedekatan, kekerabatan, dan kesamaan etnis masih menjadi faktor yang ikut menentukan kemenangan dalam kontestasi politik daerah.

Disadari atau tidak, hubungan kekerabatan yang mengacu pada identitas etnis masih berperan dalam hampir setiap hajat demokrasi di provinsi hasil pemekaran dari Sumatera Selatan tahun 1963 itu.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Provinsi Bengkulu Kurnia Utama mengakui, kekerabatan masih menjadi faktor penting dalam politik di Bengkulu. Aspek kekeluargaan yang tetap terpelihara kuat di tengah-tengah masyarakat menjadi modal awal untuk maju dalam pencalonan pimpinan daerah.

”Wakil Bupati Lebong Panca Wijaya itu adik saya. Sewaktu mencalonkan diri, banyak warga dan kerabat yang mendukungnya. Mereka malah yang membiayai pencalonannya,” kata Kurnia yang berdarah Rejang dan Jawa itu.

Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Provinsi Bengkulu Elva Hartini membenarkan. Di daerah, kebanyakan pemimpin partai politik adalah keturunan pemimpin atau aktivis sebelumnya. Elva pun putri Murman Afandi, salah seorang pemimpin Partai Nasional Indonesia di tahun 1960-an dan pernah menjabat Bupati Bengkulu Selatan dan kemudian menjadi anggota DPR RI. ”Ketika gaya kepemimpinan orangtua bagus, anak-anaknya diharapkan sama dan kerabat pun memberikan suara,” tuturnya.

Elva yang berdarah etnis Serawai itu kini masih mempersiapkan putranya menjadi pemimpin parpol. Selain merangkul para keturunan pemimpin, kader, dan simpatisan, Elva juga merangkul tokoh-tokoh baru yang seideologi dan memiliki massa.

Selain kerabat dalam satu partai, beberapa anggota keluarga Elva juga menjadi pemimpin partai lain. Elva menyebutkan Pelaksana Tugas Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bengkulu Dian Syahroza adalah tantenya sekaligus anggota Komisi IX DPR. Demikian pula Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu Susi Marlenie, masih tantenya.

Pertimbangan utama
Ketika dalam satu keluarga ada beberapa anggota maju dalam pemilu, kerabatnya akan membagi siapa yang akan mendukung mana. Bisa juga mereka memberikan suara bergantian. Ini membuat kekerabatan tetap terjaga kendati ada urusan pilkada atau pemilu.

Menurut Kurnia, daerah di luar Jawa, dalam hal ini Bengkulu, memiliki karakter yang berbeda dengan kota-kota di Jawa. Di Bengkulu, hubungan kekeluargaan dan kekerabatan masih terjaga erat. Dengan tingkat pendidikan yang mungkin tidak setinggi masyarakat di Jawa, faktor kekerabatan masih menjadi pertimbangan utama preferensi politik.

Seseorang akan menelusuri hubungan kekerabatan calon kepala daerah untuk menentukan pilihan daripada menelaah program kerja yang ditawarkannya kepada masyarakat.

Kurnia yang juga Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bengkulu itu pun tidak menampik kemungkinan aspek kekerabatan dan primordialisme menjelma jadi praktik nepotisme dalam penempatan pejabat di birokrasi.

Bagi Kurnia, penempatan kerabat atau mungkin saudara kandung dalam pemerintahan sah-sah saja sepanjang kompeten. Sebaliknya, jika orang yang ditempatkan tidak kompeten, pejabat tersebut harus siap menerima dampak buruknya.

Berbagai etnis
Bengkulu merupakan provinsi yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera. Terdapat berbagai etnis yang menghuni daerah ini seperti Rejang, Serawai, Lembak, Pekal, Melayu Bengkulu, dan Enggano. Selain itu, ada juga etnis Jawa, Minang, Sunda, Batak, Tionghoa, dan Madura sebagai pendatang.

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000, Jawa adalah etnis yang terbanyak di Bengkulu dengan proporsi 22,3 persen dari jumlah penduduk. Ini sangat terkait erat dengan program transmigrasi yang dijalankan sejak dulu hingga sekarang.

Setelah etnis Jawa, disusul etnis Rejang (21,4 persen), Serawai (17,9 persen), dan Lembak (4,9 persen) sebagai empat etnis teratas dari sisi populasi.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bengkulu Panji Suminar, selama ini primordialisme etnis menjadi basis orientasi politik di Bengkulu. Idiologi partai dalam kontestasi demokrasi tidak menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Secara historis, dari sembilan suku besar di Bengkulu, etnis Rejang dan Serawai yang silih berganti memegang kendali pemerintahan di Provinsi Bengkulu, kecuali pada masa Soeprapto (1979-1989).

Bahkan, disadari atau tidak, ujar Panji, kedua etnis itu seolah berebut dominasi di ranah publik. Kedua suku itu agak susah dipersatukan dalam politik. Bila orang Rejang memimpin pemerintahan, kemungkinan besar pejabat-pejabat di bawahnya didominasi orang-orang Rejang. Begitu juga sebaliknya.

Etnis Rejang terbagi atas Rejang pedalaman yang menempati dataran tinggi, dan Rejang pesisir di sekitar pantai. Rejang pedalaman berada di Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong yang daerahnya didominasi hutan. Sementara etnis Rejang pesisir banyak berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah. Sebenarnya, mereka adalah orang Rejang pedalaman yang dulu menyusuri sungai menuju hilir dan kemudian menetap di dekat pantai.

Sementara itu, etnis Serawai banyak terdapat di wilayah selatan Provinsi Bengkulu mulai dari Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kaur.

Kurnia menyatakan, tidak ada persaingan antaretnis dalam bidang politik. ”Bagaimana daerah mau maju kalau pikirannya selalu mengotak-ngotakkan berdasarkan suku. Bagi saya, siapa yang telah berkontribusi pada pembangunan daerah harus didukung, terlepas dari suku apa ia berasal,” tuturnya.

Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Bengkulu Azhar Marwan mengatakan, di Bengkulu, kekerabatan makin menipis. Ketika figur tidak merakyat atau tidak memenuhi harapan rakyat, kerabat tidak memberi suara. Apalagi, terdapat beberapa calon dari etnis yang sama.

Pendewasaan politik memang ada, tetapi sangat lambat. Sampai kapan? Saat ini sudah hampir 10 tahun otonomi daerah diberikan. (**)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/11/02031183/pendewasaan.politik.yang.lamban

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Statistik

  • 107,742 hits

Fans Page Kabar Tobo Kito

Follow Kabar Tobo Kito on Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Menjadi teman di Facebook

Ketik alamat email anda untuk mengikuti berita terbaru dari Blog Kabar Tobo Kito

matololak

Matololak merupakan komunitas orang Bengkulu yang cinta Provinsi Bengkulu

%d blogger menyukai ini: