*
baco dulu cik..
BUDAYA, PENDIDIKAN

Pungutan Sekolah Bangun Mental Feodal dan Korup

Kabar Tobo Kito – Pungutan yang dilakukan sekolah wajib diberantas. Dari sudut pandang budaya, praktek tersebut merupakan wujud neo-feodalisme. Bila dilestarikan, akan sangat berbahaya. Bukan hanya akan membangun masyarakat dan anak didik bermental feodal, tapi juga bermental korup. “Harus dieliminasi atau dimusnahkan,” ujar Pengamat Budaya Bengkulu Drs. Agus Setyanto, M. Hum, dilansir Rakyat Bengkulu dalam “Pendidikan Kota Diskriminatif”, Minggu (5/8/2012, halaman 13). 

Dari perspektif relasi, praktek pungutan menunjukkan ketimpangan atau ketidakadilan struktural antara sekolah terhadap masyarakat. Sekolah dengan kekuasaan yang dimiliki, memaksa masyarakat dengan disertai ancaman atau sanksi secara terang-terangan ataupun terselubung agar membayar pungutan. “Karena masyarakat berada di posisi lemah, masyarakat pun menyerah terhadap ketimpangan struktur tersebut,” kata Agus. 

Budaya neo-feodalisme lazim ditemukan di birokrasi. Bahkan, Agus menyebutkannya sudah menjadi penyakit birokrat. Bentuk lainnya, budaya neo-feodalisme pada birokrasi tersebut berwujud dengan pola ke bawah menekan dan ke atas menjilat. Wujud menjilat tersebut bisa berupa memberikan upeti dan lainnya. “Budaya yang sangat menghambat,” kata Agus. 

Pemimpin memiliki peran strategis untuk memberantas budaya neo-feodalisme tersebut. Namun tidak semua pemimpin mampu melakukannya. Hanya pemimpin yang berhati nurani, bersih, jujur, adil dan bijaksana yang mampu. Sebaliknya bila pemimpin tak berhati nurani, tidak bersih, tidak jujur, tidak adil dan tidak bijaksana, malah menjadi pelakunya. “Kuncinya adalah pada pemimpin. Kalau di sekolah, ya.. kepala sekolah,” kata Agus. 

Sementara itu, Plt. Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah, S. Ag, M. Pd menyesalkan malahnya biaya pendidikan di sekolah Kota Bengkulu. Terutama penambahan beban biaya sumbangan pendidikan yang besarnya hingga jutaan rupiah bagi warga luar Kota Bengkulu. Junaidi menilai, pemberlakuan sumbangan tersebut sebagai tindakan diskriminatif terhadap pelajar luar Kota Bengkulu. 

“Sekolah di mana saja, itu hak asasi manusia. Ini malah menimbulkan kesan, warga miskin tidak bisa sekolah di Kota Bengkulu. Apalagi siswa miskin dari luar Kota. Mestinya, Kota ini menjadi barometer bagi daerah sebagaimana layaknya kota-kota lainnya,” kata Junaidi. (**)

About matololak

Matololak merupakan komunitas orang Bengkulu yang cinta Provinsi Bengkulu, yang bersifat nirlaba. Salah bentuk kecintaan terhadap Provinsi Bengkulu, matololak membangun blog Kabar Tobo Kito dengan menyeleksi, mengemas ulang dan mempublikasikan berita-berita yang diterbitkan oleh media massa dan media sosial.

Diskusi

One thought on “Pungutan Sekolah Bangun Mental Feodal dan Korup

  1. yupp…moga bisa diperbaiki…semangat!!!

    Posted by joyolandoh | 5 Agustus 2012, 4:56 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Statistik

  • 107,746 hits

Fans Page Kabar Tobo Kito

Follow Kabar Tobo Kito on Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Menjadi teman di Facebook

Ketik alamat email anda untuk mengikuti berita terbaru dari Blog Kabar Tobo Kito

matololak

Matololak merupakan komunitas orang Bengkulu yang cinta Provinsi Bengkulu

%d blogger menyukai ini: